Belajar dari Ryu Kawano Suliawan

Tulisan ini seharusnya sudah cukup lama saya publikasikan, tetapi apa daya akhirnya baru sekarang bisa disusun dan dibagikan untuk publik.

Tulisan ini adalah catatan ulang dari sebuah presentasi yang dilakukan oleh Ryu Kawano Suliawan dari Veritrans.co.id dalam sebuah acara IDByte roadshow yang diadakan di Bandung. Saat itu Ryu menjadi salah satu juri untuk pitching startup dan diberikan waktu untuk memberikan presentasi dan membagi ilmu bagi startup serta peserta acara yang hadir.

Kira-kira, begini rangkumannya.

Dalam presentasi waktu itu, Ryu memberikan sorotan atas beberapa hal, salah satunya adalah ajakan bagi mereka yang ingin mendirikan startup, yaitu usahakan untuk solve big problem.

Topik ini menjadi bahasan diberbagai diskusi tentang startup, ada yang berpendapat sama ada pula yang berpendapat sebaliknya, mencari pasar niche dan memelihara dengan sebaik mungkin.

Ryu memberikan argumentasi yang menurut saya cukup valid: masalah yang lebih besar berarti pasar atau market yang lebih besar pula.

Pembahasan kedua yang diberikan adalah tentang LTV dan CAC yang merujuk masing-masing pada Live Time Value of a Customer serta Customer Acquisition Cost.

Saya tidak akan menjelaskan secara panjang lebar tentang hal di atas, tetapi kira-kira maksudnya Ryu itu adalah bahwa biaya yang dikeluarkan untuk CAC haruslah lebih kecil daru LTV. Jadi para startup harus bisa memikirkan bagaimana perusahaannya bisa mencapai hal tersebut.

Biayanya 1 banding 6, dengan gambaran bahwa biaya satu dollar harus bisa mendapatkan 6 dollar pemasukan dari konsumen.

Best startup adalah perusahaan yang mengerti dua hal di atas.

Ryu juga menyebutkan sebagai kesimpulan apa yang harus dimiliki oleh startup, mereka antara lain harus punya:

1. passion
2. solve big problem
3. understand your business model

Saran lainnya adalah bagi mereka yang ingin mendirikan perusahaan baru atau startup, sebelum mendirikan perusahaan sendiri, bisa kerja dahulu atau gabung ke startup yang telah berdiri sebelum mendirikan startup. Tujuannya adalah untuk melihat bagaimana rasanya kerja di dunia startup.

Kira-kira seperti itu beberapa penjelasan dari Ryu yang saya tanggak dalam acara yang memang telah cukup lama lewat. Tetapi saya yakin presentasi ini masih relevan dan bisa jadi bahan renungan untuk para startup atau mereka yang tertarik mendirikan usaha baru dibidang digital.

Dunia startup adalah dunia rintisan, tidak mudah dan penuh tantangan, perlu kerja keras. Pola kerjanya pun terkadang tidak biasa atau tidak sama dengan ketika kita bekerja di perusahaan besar, itu kenapa Ryu juga memberikan saran untuk mencari pengalaman kerja dahulu di startup lain. Meski ada pula yang lebih suka untuk menjelajah sendiri pengalaman di dunia startup, tetapi biasanya mereka yang terjun langsung sudah harus siap dengan segala lika-liku perusahaan baru.

Semoga catatan ini bermanfaat.

15. July 2013 by wikupedia
Categories: inspiration | Tags: , , | 2 comments

Comments (2)

  1. Gw gak selalu setuju sih dengan startup harus solve big problems. Klo punya tim besar, it’s okay. Klo tim cuma berdua?

    Gw lebih suka kalau misalnya startup fokus di solving urgent problems. Lagi pula, small niche problems-solving in a large industry market, bisa lumayan profitable juga.

    Just my two cents.

    • true.

      tapi seperti kalimat ini: “small niche problems-solving in a large industry market”, bisa saja niche tapi industri di mana niche itu ada tetap besar.

      selalu bisa diperdebatkan sih ini. gw juga gak selalu setuju, karena kadang yang keren-keren itu gak melulu harus solve big problem, tapi kalau argumen yang digunakan, “masalah yang lebih besar berarti pasar atau market yang lebih besar pula” untuk sebagian besar kasus, gw setuju.

Leave a Reply

Required fields are marked *