Catatan Proses Belajar Jadi Product Manager #3

Ada satu pemikiran yang muncul dan menjadi perenungan saat berusaha untuk menjalankan peran sebagai product menager di kantor tempat saya bekerja, yaitu tentang kendala atau kesulitan-kesulitan yang saya hadapi. Kali ini saya ingin membahas tentang salah satu kesulitasn yang rumit, bisa dihindari tetapi terkadang baru muncul setelah proyek pengembangan produk berjalan.

Kesulitan itu adalah ketika product manager bertemu dengan anggota tim yang kurang (tidak) disiplin.

Ini bukan hanya tentang karyawan yang tidak disiplin, ketika berhubungan dengan pengembangan produk maka muncul masalah baru, dan masalah ini dihadapi oleh si product manager itu sendiri. Dalam beberapa penjelasan singkat di dua tulisan sebelumnya (1 dan 2), sedikit bisa dilihat bahwa seorang product manager itu bukanlah seorang ‘bos’, dengan kondisi ini maka si product manager tidak bisa bertindak seperti CEO pada anggota tim yang kurang disiplin. Tidak bisa langsung menindak tetapi harus mengambil jalan lain untuk bisa menjaga tim tetap pada jalurnya.

Mengapa saya bilang kesulitan, karena jalan lain yang harus ditempuh bisa jadi akan membuat fokus dari si product manager menjadi terpecah, minimal problem untuk mengembangkan sebuah produk jadi bertambah. Tetapi di sisi lain product manager tidak bisa tidak untuk menyelesaikan permasalahan tentang tim ini, karena jika tidak diselesaikan akan menghampat proses pengembangan produk secara keseluruhan.

Salah satu cara yang bisa ditempuh – dan selaras dengan peran product manager – adalah dengan berembuk. Terkesan sederhana tetapi jika melihat 3 elemen yang harus diperhatikan oleh product manager, maka menarik semua tim dan berdiskusi untuk menyelesaikan masalah kinerja adalah yang terbaik. Product manager memiliki tugas untuk menjaga agar semua seimbang. Tujuannya tentu saja tidak lebih tidak kurang agar pengembang produk bisa berjalan lancar dan berhasil (sesuai dengan kebutuhan pengguna).

Product manager mau tidak mau harus memiliki kemampuan manajerial untuk bisa menemukan waktu dan cara yang tepat dalam proses berembuk ini. Bersikap sejajar dengan anggota tim lain, alias bukan sebagai bos tetapi mengambil sedikit jarak agar perannya sebagai penyeimbang tetap bisa dijalankan. Tidak mudah, karena biasanya seorang PM memiliki gambaran akhir dari produk itu seperti apa, outputnya bisa dibayangkan namun prosesnya tetap harus bertahap. Jika PM tidak sabar dan ingin mencari jalur cepat, komunikasi alias rembuk dengan tim bisa tidak terlaksana. Atau yang cukup fatal, PM malah layaknya sebagai CEO.

Satu hal yang bisa saya simpulkan permasalahan SDM dalam tim adalah: manajerial skill itu sering dianaktirikan di era bot dan AI. Padahal semakin besar startup dan kemajuan teknologi semakin pesat, peran manajerial jadi semakin penting.

27. July 2018 by wikupedia
Categories: inspiration | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *