ide untuk lingkungan sekitar bagian 1: aplikasi candi dan museum

posting ini akan dimulai dengan dua cerita yang didasari oleh pengalaman dan hasil ngobrol-ngobrol dengan teman saya.

cerita yang pertama adalah ketika saya dan rombongan kantor sedang dalam road trip ke beberapa kota di jawa tengah dan jawa timur. rombongan kami mampir di sebuah komplek candi, dalam perjalanan menjelajah candi tersebut saya dan teman-teman saya ingin mengetahui lebih lanjut tentang sejarah candi. di komplek candi memang ada papan penjelasan, tetapi sama sekali tidak membantu karena informasi yang ada tidak detail dan tidak memenuhi penasaran kami.

kemudian selama menjelajah candi tersebut kami juga merasa bawah, sepertinya asik jika bisa mendapatkan berbagai informasi  tentang area candi ini, langsung di perangkat bergerak yang kami gunakan.

sepertinya bakalan asik jika ada aplikasi berbasis augmented reality untuk berbagai situs sejarah di Indonesia. dengan aplikasi ini, pengunjung hanya perlu mengarahkan ponsel ke sekitar candi dan mendapatkan informasi atas candi tersebut secara langsung di ponsel, kita bisa men-tap candi tertentu dan informasi terkait yang lebih banyak bisa hadir, termasuk link ke wikipedia atau situs travel.

cerita yang kedua mirip, tetapi dalam konteks yang berbeda. suatu ketika saya sedang menghadiri acara yang diadakan produsen prosesor di bandung, dan dalam presentasinya dijelaskan tentang sebuah teknologi yang sepertiya asik untuk diintegrasikan dengan aplikasi untuk museum.

jadi misalnya di dekat pintu masuk museum atau di depan sebuah artefak, diletakan laptop yang telah dilengkapi dengan teknologi yang memungkinkan interaksi interaktif antara pengunjung dengan artefak yang ada. memanfaatkan kamera laptop dan augmented reality, pengguna misalnya bisa melihat dalam bentuk tiga dimensi kondisi sebenarnya dari tubuh dinosaurus, atau menggeser bagian-bagian tulang dinosaurus untuk mempelajari bagain-bagian tersebut.

disediakan pula aplikasi untuk perangkat bergerak, yang dalam sekali swap, maka tampilan yang ada di laptop bisa dipindahkan langsung ke smartphone. pengguna bisa membawa terus aplikasi ini selama menjelajah museum dan berinteraksi antara apa yang ia lihat di smartphone dengan apa yang mereka lihat langsung di museum.

cerita di atas hanyalah obrolan sepintas yang memunculkan berbagai ide. saya sendiri belum berkunjung lagi ke museum dan tidak tahu apakah fasilitas seperti itu ada atau tidak. namun untuk yang jalan-jalan di candi, terus terang akan sangat keren jika selama berkeliling candi saya bisa ‘berinteraksi’ dengan bangunan bersejarah tersebut lewat aplikasi di perangkat bergerak yang saya bawa.

ide tentang aplikasi atau penggunaan teknologi dan tema sejarah bukanlah hal baru, namun penerapannya tetap menarik. ide ini juga bisa dikembangkan ke tema sejarah yang lebih lekat dengan kegiatan masyarakat sehari-hari, alias lingkungan yang mereka hadapi tiap hari.

saya dulu sempat berada dalam lingkungan komunitas yang di dalamnya berkembang berbagai komunitas kota yang mencoba untuk mengenalkan dan melestarikan bangunan-bangunan bersejarah di kota dimana saya tinggal, Bandung.

komunitas itu sampai sekarang masih ada dan peminatnya pun masih terus bertumbuh. saya lalu membayangkan sepertinya akan seru jika ada kolaborasi antara berbagai komunitas ini – yang sebagian besar ada di perkotaaan – dengan dunia teknologi.

misalnya saja, ketika ada acara menjelajah bangunan bersejarah di kota Bandung, para peserta yang menggunakan smartphone bisa mengunduh aplikasi khusus, dimana aplikasi ini telah dilengkapi dengan fitur augmented reality. jadi ketika mereka sampai di bangunan bersejarah tertentu, mereka bisa mengarahkan ponsel ke bangunan tersebut dan mendapatan informasi tentang gedung itu.

jadi, sambil pemandu acara jalan-jalan tersebut menjelaskan tentang sejarahnya, pengguna pun bisa menjelajah sendiri di perangkat bergerak mereka. lalu setelahnya mereka bisa mendiskusikan dan mengeluarkan pendapat masing-masing agar interaksi offline tetap terjalin.

atau aplikasi yang digunakan juga bisa mengambil tema fotogrrafi, jadi setiap peserta yang memfoto bangunan bersejarah tersebut bisa mengunggah ke aplikasi, mereka bisa berteman dengan berbagai rekan lain, baik yang sudah pernah mengikuti acara atau pun yang baru dan saling mengungkapkan pendapat mereka tentang bangunan tersebut. mirip jejaring sosial tetapi dengan tema bersejarah. (cek keterangan di bawah).

aplikasi ini akan selalu terintregasi dengan program offline, jadi peserta yang pernah mengikuti acara bisa terus terhubung, dan siapa tau bisa bergabung lagi untuk acara lain.

semua kegiatan tersebut bisa dicatat di aplikasi dan bisa menjadi semacam rekaman, yang tentunya bisa digunakan untuk kepentingan lain. membuat booklet, atau mengadakan acara reuni bertema sejarah dengan mengundang semua peserta yang pernah hadir atau kegiatan lain.

penjelasan di atas hanya satu contoh kecil dimana teknologi dan perkembangannya bisa saling menyatu dengan berbagai kegiatan urban atau perkotaaan. akan sangat menyenangkan tentunya jika berbagai program sosial yang berhubungan masyarakat luas untuk saling terintegrasi. interaksi antara fasilitas kota dengan warganya bisa dijembatani dengan teknologi.

pertumbuhan pengguna ponsel, pertumbuhan pengguna internet dan perkembangan teknologi kini telah memasuki hampir semua kehidupan masyarakat. teknologi ada juga untuk dimanfaatkan untuk meningkatkan kehidupan atau membantu manusia.

masyarakat kota bisa jadi ingin peduli dengan apa yang ada disekitar mereka tetapi mungkin tidak tau caranya, dengan teknologi jurang ini bisa saja didekatkan.

contoh di atas bisa jadi lebih menitikberatkan pada tema sejarah, konservasi bangunan bersejarah dan komunitas heritage, namun tentunya pemanfaatan teknologi juga bisa terus diperluas untuk wilayah kehidupan sehari-hari yang lain.

meski lebih merujuk pada masyarakat perkotaaan tetapi tentunya hal yang sama juga bisa dicoba untuk diterapkan pada masyarakat sub-urban atau pedesaan, hanya saja bisa jadi harus ada penyesuaian yang melihat tingkat adopsi perangkat teknologi yang ada di daerah tersebut.

ada banyak hal yang bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pemecahan masalah, atau ide yang bisa membantu meningkatkan kegiatan sehari-hari, tinggal kita yang mau atau tidak untuk membuka mata, mendengarkan dengan telinga kita dan mengamati lingkungan sekitar.

jadi, ide apa yang bisa kita kembangkan untuk lingkungan sekitar kita?

mari diskusi.

ps: saat tulisan ini dalam proses edit, harpoen merilis versi terbaru mereka. harpoen sendiri memungkinkan pengguna untuk meninggalkan ‘tanda’ digital, gambar atau catatan di aplikasi mereka.

dalam penjelasan artikel Trenologi yang mengutip dari DailySocial, Harpoen mengatakan bahwa mereka akan menyediakan informasi terkait sejarah di kota Jakarta ke dalam data aplikasi mereka. ini menarik dan saya sendiri menunggu kehadirannya.

fitur ini bisa jadi selaras dengan ide aplikasi candi atau museum di atas, namun bukan menjadi aplikasi mandiri atau terpisah tetapi terintegrasi dengan layanan yang ada dan menjadi sebuah fitur.

02. February 2013 by wikupedia
Categories: ide | Tags: , , , | 2 comments

Comments (2)

  1. Pertanyaan selanjutnya, apakah industri museum di Indonesia sudah siap?
    Balik ke cerita waktu di acara Intel lalu, aplikasi yang kita bikin untuk akhirnya berakhir di kantor pengurus museum saja jadi prototype. :))

    Kalau ada yang mau kolaborasi dari sisi bisnis dan developmentnya, pasti keren banget. We would love to join, Wik.

    • nah kalo masalahnya seperti ini, bisa juga mempraktekan seperti yang disebutkan di atas.

      gak perlu ke museum dulu, bisa ajak komunitas yang ada. mereka udah punya data dan anggota, jadi kalo app-nya jadi langsung bisa punya pengguna.

      atau bisa dibuat prototipe, harusnya banyak pihak sih yang tertarik dengan hal ini. karena implementasinya bisa langsug ke pengguna alias market.

      mungkin kerja sama dengan prinsipal semacam nokia, intel dll bisa jadi salah satu cara?

Leave a Reply

Required fields are marked *