Pertanyaan: Bagaimana Caranya Mendapatkan 1 Juta Pengguna Pertama?

Nah, pertanyaan di atas menjadi pertanyaan favorit saya dalam menganalisis strategi startup di Indonesia. Kenapa, mari kita berdiskusi.

Saya termasuk orang yang percaya pada prinsip bahwa fokus pada pengguna adalah tahap awal yang harus menjadi acuan bagi para startup, jargon singkatnya, kalau user sudah banyak monetisasi tinggal diarahkan saja.

Meski pada kenyataannya, prinsip ini tidak bisa diterapkan pada setiap segmen atau karakter startup. Tapi dalam pandangan saya, dengan berfokus pada satu hal – konsumen a.k.a user maka startup bisa berkonsentrasi untuk membuat produk dengan kualitas baik. Kualitas baik bisa membuka peluang layanan yang ditawarkan diminati user, kalau sudah diminati pertambahan user adalah yang selanjutnya dikejar.

Jika startup yang Anda jalankan memiliki cara pandang yang sama dengan saya, maka pertanyaan yang ada dalam judul bisa jadi sering atau mampir ketika menjalankan startup, terutama di masa-masa awal. Bagaimana caranya mendapatkan 1 juta pengguna pertama?

Pertanyaan ini menjadi penting atas beberapa hal:

1. angka 1 juta itu kadang dianggap sebagai semacam tipping point, kalau sudah bisa melewati angka satu juta maka standar dari startup akan berbeda, kadang akan terus naik dari sisi user dan terus bertambah.

2. angka 1 juta ini semacam analogi, bahwa dengan mencapai angka tersebut maka pengguna atau user dari aplikasi atau layanan yang dikembangkan telah cukup untuk diarahkan ke langkah selanjutnya, bisa jadi belum ke monetisasi tetapi menjadi standar baru dari perjalanan startup.

Saya pernah bertanya pada sebuah founder startup aplikasi mobile yang kini jumlah penggunanya telah mencapai lebih dari 12 juta. Startup ini berasal dari Indonesia, kami kebetulan berada dalam satu event, saya sebagai moderator dan dia sebagai pembicara.

Dalam waktu luang menunggu acara mulai, saya bertanya pada teman saya ini: bagaimana dulu aplikasi Anda bisa mencapai 1 juta pengguna? Apa cara yang ditempuh?

Teman saya ini secara terus terang menjawab bahwa dia tidak tau jawaban pastinya, dia hanya bilang bahwa dia beruntung. Beruntung bahwa pada saat itu aplikasi dia dirilis di platform BlackBerry yang penggunanya besar di Indonesia, beruntung karena dia adalah aplikasi satu-satunya di platform BB dengan fitur dan fasilitas yang tidak dimiliki aplikasi lain, meski di platform lain sudah ada. Beruntung bahwa aplikasi yang ia kembangkan bisa menghadirkan beberapa fitur yang memang diterima oleh pengguna dan juga oleh pengiklan.

Dari obrolan ini kemudian saya malah punya pendapat sendiri, ya ia memang beruntung, tetapi beruntung yang menurut saya hadir dari analisis dan pengalaman dia sebelumnya. Ia pernah mengembangkan perusahaan yang bergerak di bidang digital yang kini telah ia jual. Beruntung yang didasari analisis serta insting tentu akan berbeda dengan beruntung yang sekedar ‘ngarep’ doank.

Bagi saya, aplikasinya telah mampu mendefinisikan fokus, user. Menyediakan fitur yang populer di platform lain namun belum ada di platform yang jadi sasaran pasar, menyediakan fitur yang menarik dan dibutuhkan pengguna serta membuka peluang untuk eksponensial pertambahan user, plus menyediakan platform atau pondasi untuk pengiklan masuk dan ‘nempel’ dalam layanannya.

Saya juga berpendapat bahwa teman saya ini, meski beruntung tapi jeli melihat kondisi keberuntungan yang ia alami. Artinya dia tidak hanya beruntung tetapi pintar untuk melakukan analisis.

Pertanyaan penting selain yang muncul dalam judul artikel ini adalah, apa yang selanjutnya akan terjadi setelah 1 juta pengguna?

Sudah pasti jika hanya sekedar beruntung, layanan itu tidak akan kemana-mana, tetapi juga beruntung dikombinasikan dengan kejelian untuk melihat kondisi dan keadaan termasuk perkembangan yang terjadi pada startup atau layanan yang dikembangkan, maka akan muncul sebuah layanan yang bisa berkembang terus menerus.

Beruntung yang dikombinasikan dengan analisis, riset serta proses pembelajaran secara terus menerus.

Jadi, bagaimana caranya mendapatkan 1 juta pengguna pertama? Jawabannya bisa saja karena beruntung. Tapi jangan terlena akan keberuntungan, startup perlu perjuangan keras. Kejelian dalam melihat kondisi, riset yang terus menerus serta analisis yang menjadi sebuah proses rutin dalam menjalankan startup, adalah beberapa hal yang bisa membawa keberuntungan ke tahap selanjutnya.

Anda setuju atau punya pendapat lain? Mari berdiskusi.

note: bisa jadi startup yang cocok atau masuk dalam pembahasan di atas adalah startup yang memiliki produk/aplikasi/layanan alias B2C startup.

01. August 2013 by wikupedia
Categories: inspiration | Tags: | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *